MEKANISME PERTAHANAN SIGMUND FREUD
MEKANISME PERTAHANAN SIGMUND
FREUD
Oleh Kristina Yanuarti 190541100084
Freud menguraikan gagasan mekanisme pertahanan pertama kali pada tahun 1926
(Freud, 1926/1959a), dan putrinya Anna, semakin menyempurnakan dan mengatur
konsep tersebut (A. Freud, 1946). Meskipun mekanisme pertahanan normal dan
digunakan secara universal, ketika dibawa ke ekstrem mereka mengarah pada
perilaku kompulsif, berulang, dan neurotik. Karena kita harus mengeluarkan
energi psikis untuk membangun dan mempertahankan mekanisme pertahanan, semakin
defensif kita, semakin sedikit energi psikis yang tersisa untuk memuaskan
impuls id. Ini, tentu saja justru tujuan ego dalam membangun mekanisme
pertahanan untuk menghindari berurusan langsung dengan impuls seksual dan
agresif dan untuk mempertahankan diri terhadap kecemasan yang menyertai mereka
(Freud, 1926/1959a).
Mekanisme pertahanan utama yang diidentifikasi oleh Freud meliputi represi,
pembentukan reaksi, perpindahan, fiksasi, regresi, proyeksi, introjeksi, dan
sublimasi.
a.
Represi
Mekanisme
pertahanan yang paling mendasar karena terlibat dalam masing-masing mekanisme
pertahanan yang lain. Setiap kali ego terancam oleh impuls yang tidak
diinginkan ia melindungi dirinya dengan menekan impuls tersebut, ia memaksa
perasaan yang mengancam ke alam bawah sadar (Freud, 1926/1959a). Dalam banyak
kasus represi kemudian diabadikan seumur hidup. Sebagai contoh, seorang gadis
muda mungkin secara permanen menekan permusuhannya terhadap seorang adik
perempuannya karena perasaan yang penuh kebencian membuat ia terlalu banyak
mengalami kecemasan.
Tidak ada
masyarakat yang memungkinkan ekspresi seks dan agresi yang lengkap tanpa ada
hambatan. Ketika anak-anak memiliki perilaku seksual atau bermusuhan mereka
akan dihukum atau ditekan, mereka akan belajar untuk menjadi cemas setiap kali
mereka memiliki dorongan untuk melakukan hal tersebut. Meskipun kegelisahan
atau kecemasan ini jarang mengarah pada represi total dari dorongan agresif dan
seksual, tetapi sering mengakibatkan resepsi parsial mereka.
Apa yang terjadi
pada impuls ini setelah mereka sadar? Freud (1933/1964) percaya bahwa ada
beberapa kemungkinan. Pertama, impuls dapat tetap tidak berubah di alam bawah
sadar. Kedua, mereka bisa memaksa jalan mereka menuju kesadaran dalam bentuk
yang tidak berubah, dalam hal ini mereka akan menciptakan lebih banyak
kecemasan daripada yang bisa ditangani oleh mereka, sehingga mereka kewalahan
dengan kecemasan itu. Nasib ketiga yang jauh lebih umum dari drive yang ditekan
adalah bahwa drive tersebut diekspresikan dalam bentuk yang dipindahkan atau
disamarkan. Penyamarannya tentu saja harus cukup pintar untuk menipu ego.
Dorongan yang ditekan dapat disamarkan sebagai gejala fisik, misalnya impotensi
seksual pada pria yang bermasalah dengan rasa bersalah seksual. Impotensi
mencegah pria dari harus berurusan dengan rasa bersalah dan kecemasan yang akan
dihasilkan dari aktivitas sesksual normal yang menyenangkan. Dorongan yang
ditekan mungkin juga menemukan jalan keluar dalam mimpi, slip lidah, atau salah
satu mekanisme pertahanan lainnya.
b. Pembentukan reaksi
Salah satu cara
dimana impuls yang ditekan dapat menjadi sadar adalah dengan cara mengadopsi
penyamaran yang secara langsung berlawanan dengan bentuk aslinya. Mekanisme
pertahanan ini disebut dengan pembentukan reaksi. Perilaku reaktif dapat
diidentifikasi oleh karakter yang diperluas oleh bentuk obsesif dan kompulsif
(Freud, 1926/1959a). Contoh dari pembentukan reaksi dapat dilihat pada seorang
wanita yang sangat menyukai dan membenci ibunya. Karena ia tahu bahwa
masyarakat menuntut kasih sayang kepada orang tua, kebencian yang sadar
terhadap ibunya akan menghasilkan terlalu banyak kecemasan. Untuk menghindari
kecemasan yang menyakitkan, wanita muda itu berkonsentrasi pada dorongan yang
berlawanan yaitu cinta. Tetapi bagaimanapun cinta terhadap ibunya itu tidak
asli, karena terlihat mencolok dan berlebihan. Orang lain mungkin dengan mudah
melihat sifat yang sebenarnya dari cinta ini, tetapi wanita itu harus menipu
dirinya sendiri dan berpegang teguh pada pembentukan reaksinya, yang membantu
menyembunyikan kebenaran yang membangkitkan kecemasan bahwa secara tidak sadar
ia membenci ibunya.
c. Pemindahan
Freud (1926/1959a)
percaya bahwa pembentukan reaksi terbatas pada objek tunggal, misalnya orang
dengan reaktif cinta menghujani hanya kepada orang yang mereka benci secara
tidak sadar. Namun dalam perpindahan, orang-orang dapat mengarahkan kembali
dorongan-dorongan mereka yang tidak dapat diterima ke berbagai orang atau benda
sehingga dorongan asli disamarkan atau disembunyikan. Sebagai contoh, seorang wanita
yang marah kepada teman sekamarnya dapat menggantikan atau melampiaskan
kemarahannya kepada karyawannya di kantor, kucing kesayangannya, atau
bonekanya. Dia tetap ramah kepada teman sekamarnya tetapi tidak seperti cara
kerja pembentukan reaksi, dia tidak melebih-lebihkan atau berlebihan dalam
kemarahannya.
Sepanjang
tulisannya Freud menggunakan istilah “perpindahan” dalam beberapa cara. Dalam
pembahsan kita mengenai dorongan seksual, kita melihat bahwa objek seksual
dapat dipindahkan atau diubah menjadi objek lain, termasuk diri seseorang.
Freud (1926/1959a) juga menggunakan perpindahan untuk merujuk pada penggantian
satu gejala neurotik dengan yang lain. Misalnya, dorongan kompulsif untuk
masturbasi dapat diganti dengan mencuci tangan kompulsif. Perpindahan biasanya
juga terlibat dalam pembentukan mimpi, seperti ketika desakan destruktif dari
si pemimpi terhadap orang tua yang diibaratkan sebagai seekor anjing atau
serigala. Dalam peristiwa ini, mimpi tentang anjing atau serigala yang ditabrak
mobil dapat mencerminkan keinginan tidak sadar si pemimpi untuk melihat orang
tuanya dihancurkan.
d. Fiksasi
Pertumbuhan
psikologis biasanya berlangsung secara terus-menerus melalui berbagai tahap
perkembangan. Akan tetapi, proses pertumbuhan secara psikologis bagaimanapun
bukan tanpa momen yang menegangkan dan mencemaskan. Ketika prospek untuk
mengambil langkah berikutnya terlalu memicu terjadinya kekhawatiran, ego
mungkin menggunakan strategi untuk tetap berada pada saat ini, tahap psikologis
yang lebih nyaman. Pertahanan seperti itu disebut fiksasi. Secara teknis
fiksasi adalah perlekatan permanen libido ke tahap perkembangan yang lebih awal
dan primitif (Freud, 1917/1963). Seperti mekanisme pertahanan lainnya, fiksasi
bersifat universal. Orang-orang yang terus-menerus mendapatkan kesenangan dari
makan, merokok atau berbicara mungkin memiliki fiksasi lisan, sedangkan
orang-orang yang terobsesi dengan kerapian dan ketertiban memiliki fiksasi anal.
e. Regresi
Setelah libido
melewati tahap perkembangan, hal itu mungkin terjadi selama masa stress dan
kecemasan kembali ketahap sebelumnya. Pembalikan seperti itu dikenal sebagai
regresi (Freud, 1917/1963). Regresi pada umumnya dan biasanya terlihat pada
anak-anak. Sebagai contoh, seorang anak yang telah disapih mulai menghisap
jempolnya lagi saat adik bayi laki-laki atau perempuannya dilahirkan. Karena
perhatian (ibu) yang diberikan kepada bayi yang baru lahir merupakan ancaman
bagi anak yang lebih besar. Kemunduran juga sering terjadi pada anak yang lebih
tua dan pada orang dewasa. Cara yang umum bagi orang dewasa untuk bereaksi
terhadap situasi yang menyebabkan kecemasan adalah dengan kembali ke pola
perilaku yang lebih awal, lebih aman, dan menginvestasikan libido mereka ke
benda-benda yang lebih primitif dan dikenal. Dibawah tekanan yang
ekstrem, dapat membuat keadaan seorang kembali ke tingkat perkembangan
sebelumnya yang kurang matang dalam adaptasi, bentuknya dapat berupa tingkah
laku infantil (kekanak-kanakan). Namun regresi biasanya bersifat sementara, sedangkan
fiksasi menuntut pengeluaran energi psikis yang kurang lebih bersifat permanen.
f. Proyeksi
Ketika sebuah
dorongan internal memprovokasi terlalu banyak kecemasan, ego dapat mengurangi
kecemasan itu dengan menghubungkan dorongan yang tidak diinginkan ke objek
eksternal, biasanya orang lain. Ini adalah mekanisme pertahanan dari proyeksi,
yang dapat didefinisikan sebagai melihat pada orang lain perasaan atau
kecenderungan yang tidak dapat diterima yang sebenarnya berada dalam perasaan
sendiri (Freud, 1915/1957). Sebagai contoh, seorang pria dapat secara konsisten
menafsirkan tindakan wanita yang lebih tua sebagai upaya rayuan atau godaan.
Secara sadar, pemikiran tentang hubungan seksual dengan wanita yang lebih tua
mungkin sangat menjijikkan baginya, tetapi terkubur di alam bawah sadarnya
adalah daya tarik erotis yang kuat bagi para wanita tua ini. Dalam contoh ini,
pria muda menipu dirinya sendiri untuk percaya bahwa dia tidak memiliki
perasaan sesksual bagi wanita yang lebih tua. Meskipun proyeksi ini menghapus
sebagian besar kecemasan dan rasa bersalahnya, proyeksi ini memungkinkan untuk
mempertahankan minat seksual pada wanita yang mengingatkannya pada ibunya.
Jenis proyeksi
ektrem adalah paranoia, kelainan mental yang ditandai oleh ilusi kecemburuan
dan penganiyayaan yang kuat. Paranoia bukanlah hasil proyeksi yang tak
terhindarkan, tetapi hanya variasi yang parah. Menurut Freud (1922/1955),
perbedaan penting antara proyeksi dan paranoia adalah bahwa paranoia selalu
ditandai oleh perasaan homoseksual yang tertekan terhadap penganiyayaan. Freud
percaya bahwa penganiyayaan tidak bisa dihindari dari mantan teman berjenis
kelamin yang sama, meskipun kadang-kadang orang dapat mentransfer delusi mereka
kepada orang yang memiliki lawan jenis. Ketika impuls homoseksual menjadi
terlalu kuat, paranoid yang dianiyaya membela diri dengan membalikkan perasaan
ini dan kemudian memproyeksikan ke objek asli mereka. Untuk pria, transformasi
berlangsung sebagai berikut. Alih-alih mengatakan “aku mencitainya” orang
paranoid akan mengatakan “aku benci dia”. Karena ini juga menghasilkan terlalu
banyak kecemasan, katanya “dia membenciku”. Pada titik ini, orang tersebut
telah menyangkal semua tanggung jawab dan dapat mengatakan “saya suka dia
baik-baik saja, tetapi dia telah mendapatkannya untuk saya”. Mekanisme sentral
dalam semua paranoia adalah proyeksi dengan menyertai delusi kecemburuan dan
penganiayaan.
g. Introyeksi
Berbeda dengan
proyeksi yang melibatkan suatu dorongan yang tidak diinginkan ke objek eksternal,
introjeksi merupakan mekanisme pertahanan dimana orang menggabungkan
sifat-sifat positif dari orang lain ke dalam ego mereka sendiri. Sebagai
contoh, seorang remaja memproyeksikan atau mengadopsi tingkah laku,
nilai-nilai, atau gaya hidup bintang film/artis. Introjeksi seperti itu memberi
remaja harga diri yang melambung dan menjaga perasaan rendah diri seminimal
mungkin. Orang biasanya memproyeksikan karakteristik yang mereka anggap
berharga dan yang akan membuat mereka merasa lebih baik tentang mereka sendiri.
Freud (1926/1959a)
melihat resolusi Oedipus kompleks sebagai prototipe introyeksi. Selama periode
Oedipal, anak kecil memproyeksikan otoritas dan nilai-nilai dari satu atau
kedua orang tua hal tersebut merupakan sebuah introjeksi yang menggerakkan awal
superego. Ketika anak-anak memproyeksikan apayang mereka anggap sebagai
nilai-nilai orang tua mereka, mereka merasa lega dari pekerjaannya mengevaluasi
dan memilih keyakinan atau standar perilaku mereka sendiri. Anak-anak mengalami
kemajuan melalui periode ketepatan perkembangan pada usia 6 sampai 12 tahun dan
superego mereka menjadi lebih personal, mereka bergerak menjauh dari
identifikasi kaku dengan orang tua. Namun demikian, orang-orang dari segala
usia dapat mengurangi kecemasan yang berkaitan dengan perasaan tidak mampu
dengan mengadopsi atau memproyeksikan, nilai-nilai, kepercayaan atau keyakinan,
dan tingkah laku orang lain.
h. Sublimasi
Masing-masing
mekanisme pertahanan ini melayani individu dengan melindungi ego dari
kecemasan, tetapi masing-masing memiliki nilai yang meragukan dari sudut
pandang masyarakat. Menurut Freud (1917/1963) satu mekanisme sublimasi membantu
individu dan kelompok sosial. Sublimasi adalah penindasan terhadap tujuan
genital eros dengan menggantikan tujuan budaya atau sosial. Tujuan yang
disublimasikan dinyatakan paling jelas dalam pencapaian budaya kreatif seperti
seni, musik, dan sastra tetapi lebih halus, itu adalah bagian dari semua
hubungan manusia dan semua kegiatan sosial. Freud (1914/1953) percaya bahwa
seni Michelangelo, yang menemukan saluran tidak langsung untuk libidonya dalam
melukis dan memahat (patung), adalah contoh yang sangat baik dari sublimasi. Pada
kebanyakan orang, sublimasi bergabung dengan ekspresi langsung eros dan
menghasilkan suatu macam keseimbangan antara pencapaian sosial dan kesenangan
pribadi. Sebagian besar dari kita mampu mensublimasikan bagian dari libido kita
dalam melayani nilai-nilai budaya yang lebih tinggi, sementara pada saat yang
sama mempertahankan jumlah yang cukup dari dorongan seksual untuk mengejar
kesenangan erotis individu.
Singkatnya, semua mekanisme
pertahanan melindungi ego terhadap kecemasan. Mereka universal karena setiap
orang terlibat dalam perilaku defensif sampai batas tertentu. Setiap mekanisme
pertahanan bergabung dengan represi, dan masing-masing dapat dibawa ke titik
psikopatologi. Namun biasanya, mekanisme pertahanan bermanfaat bagi individu
dan tidak berbahaya bagi masyarakat. Selain itu, salah satu pertahanan
mekanisme pertahanan sublimasi biasanya menguntungkan bagi individu dan
masyarakat.
Contoh kasus
Setiap individu memiliki naluri untuk memuaskan kebutuhannya lewat transaksi
dengan objek di dunia luar. Dunia luar dapat memberi kepuasan atau ancaman
karena lingkungan mengandung daerah yang tidak aman dan berbahaya. Lingkungan
dapat mengganggu atau memberikan rasa nyaman bagi individu. Remaja yang
mengalami tekanan karena orang tuanya bercerai akan memberikan dampak negatif
terhadap perkembangan emosi dalam dirinya, sehingga ia menjadi cemas.
Kecemasan adalah ketidakmampuan Ego untuk menghadapi serta
mengendalikan stimulasi yang berlebihan sehingga Ego menjadi
kewalahan. Ketika individu tidak mampu menanggulangi kecemasan itu dengan
tindakan-tindakan yang efektif, maka hal ini akan menyebabkan peristiwa
traumatik dalam dirinya. Salah satu cara untuk menghadapi kecemasan itu adalah
dengan membuat mekanisme pertahanan Ego. Mekanisme
pertahanan Ego terjadi bila Ego tidak dapat
menanggulangi kecemasan dengan cara efektif, sehingga Ego akan
kembali pada cara yang tidak realistik.
Semua mekanisme pertahanan mempunyai dua ciri umum, yaitu mereka menyangkal,
memalsukan atau mendistorsi kenyataan dan mereka bekerja secara tidak sadar
sehingga individu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Sebenarnya ketika
remaja menghadapi masalah perceraian orang tuanya, mereka tetap berkeinginan
agar keadaan keluarganya utuh dan harmonis, namun realitas yang sesungguhnya
adalah kedua orang tuanya bercerai. Hal ini menimbulkan kecemasan dalam
dirinya, sehingga remaja akan mencari jalan keluar untuk mengatasi kecemasannya
itu dengan cara membuat mekanisme pertahanan diri. Remaja yang membuat
mekanisme pertahanan diri ketika menghadapi masalah perceraian orang tuanya
akan termanifestasi dalam perilakunya, misalnya: remaja melupakan kekecewaannya
dengan menekan kekecewaan itu sampai ke alam bawah sadarnya agar ia tidak
menyadari hal-hal yang menyakitkan itu, remaja memindahkan rasa kecewanya
kepada orang lain atau menunjukkan kebiasaan infantile-nya ketika
menghadapi kecemasan.
Subjek penelitian mekanisme pertahanan diri remaja ketika menghadapi masalah
perceraian orang tua adalah 2 orang. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan
adalah kedua subjek penelitian melakukan beberapa mekanisme pertahanan diri.
Mekanisme pertahanan diri yang dilakukan subjek A adalah represi, displacement,
denial, proyeksi, isolasi dan fantasi. Sedangkan mekanisme pertahanan diri yang
dilakukan subjek B adalah represi, displacement, denial, proyeksi,
rasionalisasi, dan fantasi. Beberapa sumber kecemasan yang dihadapi oleh remaja
yang menghadapi masalah perceraian orang tua adalah kehilangan kasih sayang dan
dukungan yang sangat dibutuhkan dari salah satu orang tua, keharusan untuk
menerima situasi dan keluarga baru, kekurangan dukungan finansial, harus
menjalankan tugas dan kewajiban baru serta pandangan bahwa keluarga yang
bercerai adalah suatu hal yang negatif.
DAFTAR PUSTAKA
Feist, Jess, 2017. Teori Kepribadian (Theories of Personalitily) Edisi 8. Jakarta
Selatan: Salemba Humanika.
Winarto
A.T. (2008) “Studi kasus mekanisme
pertahanan diri remaja ketika menghadapi masalah perceraian orang tua”
(online) https://repository.usd.ac.id/2562/2/009114067_Full.pdf
F

Contoh kasus menarik bagi pembaca, terimakasih dan semangat berkarya. Salam
BalasHapusUwawwww semenjak saya membaca artikel ini, saya semakin pandai terimkasih kristin, ini menambah pengetahuan saya wkwk
BalasHapus